Next

Selasa, 06 April 2010

----BANDUL MUNGIL------


Terdengar suara adzan Subuh berseru mengajak untuk beribadah kepadaNya. Karena sat itulah Tuhan turun ke bumi untuk melihat siapa – sapa saja yang menjalakan perintahNya akan diberi hikmah dan pahala yang setimpal. Aldo bergegas bangun mandi, lalu pergi ke masjid depan rumahnya. Berbeda dengan kakaknya, Aldi masih terbaring pulas di atas kasur. Mereka adalah saudara kembar yang berbeda sifatnya. Kadang perbedaannya itu justru menjadi keistimewaan dari mereka.
Aldo yang ramah sedangkan Aldi urakan. Kadang Aldo dan Aldi memiliki pemikiran yang sama meski tak sama sifatnya. Itulah yang menjadi keistimewaan dari mereka berdua. Seperti biasanya mereka berangkat sekolah bersama, Aldo yang sudah bersiap dari pagi harus sabar menunggu Aldi keluar dari kamarnya. Tak heran lagi mereka sering terlambat gara – gara Aldi. Aldo tak berani untuk memarahi Aldi, karena takut terjadi pertengkaran.
“Pak ... pak tunggu! Angan ditutup dulu, kita belum masuk!”
“Ah ... anak kembar ini lagi, jangan terlambat lagi! Awas kalau terlambat lagi bapak tak akan bukain gerbangnya.”
“Oke Pak.”
“Makasih Pak . . . terima kasih banyak.”
“Ya ... ya ... bedabanget sifate.”
Aldo segera lari menuju ke kelas, sedangkan Aldi dengan santainya berjalan di antara kelas – kelas yang sedang diajar.
“Thok ... thok ... maaf bu terlambat.”
“Mana Aldi, kakakmu itu.”
“Masih jalan Bu. Misi Bu”
“Eh enak aja masuk, push up 5 kali di tempat!”
”Oke ... oke bu!”
“Kalian ini sama saja. Lain kali jangan diulangi lagi!”
“Sudah berapa kali kalian berdua terlambat. Sudah duduk, keluarkan buku kalian! Buka hal 195 bab 3!”
Karena takut akan ancaman Bu Guru, Aldo berencna untuk berangkat sekolah tidak dengan Aldi, karena akan mengurangi nilai afektifnya. Jam istirahat mulai berdering. Aldi segera keluar bersama teman – temannya. Sedangkan Aldo dan Nicky pergi perpustakaan untuk mengerjakan tugas Biologi denga bersumber dari Perpustakaan.
“Do ... kamu jangan berangkat ma Aldi lagi!”
“Ya aku juga dah ngerencanaain itu kok Nick, ku takut nilaiku menurun akibat keteledoran Aldi.”
Nicky adalah teman sebangku Aldo, yang selalu memperhatikan Aldo dan memberi solusi akan masalahnya. Saat memilih – milih buku tak sengaja Aldo dan seorang cewek berebut buku tersebut. Aldopun kaget dan memberi kesempatan cewek itu untuk meminjamnya duluan. Cewek itu bernama Zahra kelas XI IPA 2. dia siswa baru, pindahan dari Papua. Zahra pun akhirnya menerima buku itu karena di paksa Aldo. Nicky menabok pundak Aldo yang tak berkedip melihat Zahra.
“Ma Zahra pulang!”
“Aduh anak mama dah pulang, capek”
“Ma tau gak tadi anak cowok namanya Aldo kelas XI IPA 1 anaknya baik banget.”
“Aduh anak mama da yang berbeda, jangan – jangan suka”
“Ah ... mama”
Pulang sekolah Aldo tak langsung pulang, dia harus menghadiri rapat OSIS dengan Nicky. Sedangkan Aldi menunggu adiknya dengan memanfaatkan fasilitas sekolah untuk berpacaran. Tak 1 kali Aldi sudah mendapat teguran dari guru – gurunya, tapi tak dianggap. Siska sering alu mendapat teguran dari guru.
Tetapi Aldi meyakinkan Siska agar tenang dan tidak akan terjadi apa – apa. Rapat OSIS yang membahas masalah perpisahan kelas 3 dengan membuka pendaftaran untuk siswa dalam berpartisipasi dalam acara purnawiyata kelas 3. anak – anak OSIS berencana untuk menyumbang folk song yang disetujui banyak pihak termasuk Aldo. Papan pengumuman segera dicetak dan dipasang dalam papan.
Ternyata banyak yang mendaftar dengan ikhlas turut berpartisipasi dalam perpisahan kelas 3. mulai dari, paduan suara, dance, akustik, puisi, karaoke, dan tak lupa band. Zahra yang berpartisipasi dalam tim paduan suara membuat Aldo semangat untuk melancarkan acara purnawiyata ini. Setiap hari Zahra dan yang lainnya latihan olah vokal. Sesekali Aldo lewat, melirik, mencuri perhatian Zahra pada setiap kesempatan. Zahra yang tersenyum melihat tingkah konyol Aldo saat latihan berlangsung.
Latihan telah selesai, semua kembali ke rumah masing – masing. Zahra yang berdiri di samping gerbong menunggu jemputan dan terlihat wajah Zahra pucat. Karena dia mengidap penyakit hemofilia, kelainan darah. Maka dia tak boleh telat minum obat dan banyak istirahat.
“Zahra ... nunggu jemputan ya?”
“Iya ... tapi dari tadi kok belum datang.”
“Kenapa wajahmu pucat.”
“Aku pusing do.”
“Ya udah yok tak antar pulang!”
“Makasih ya do!”
Aldo mengantar Zahra sampai di depan rumah. Karena tak kuat menahan pusing, Zahra tertidur pingsan di bahu Aldo. Segera Aldo mengangkatnya masuk ke rumah. Dibukakan pintunya oleh ibunya dan dengan pelan Aldo menggendong ke kamarnya. Zahra pingsan dan wajahnya pucat sekali. Ibunya segera mengambilkan obat dan mengkompresnya dengan air hangat karena suhu badannya rendah.
“Terima kasih ya nak!”
“Sama – sama bu, mungkin Zahra kecapean.”
“Ya ... mungkin, memang kondisi fisiknya lemah.”
“Sudah bu ya saya mau pamit pulang, salam buat Zahra.”
“Eh tunggu nak, kamu apa Aldi.”
“Lhoh memang benar, ibu kok tau?”
“Zahra sering cerita tentangmu.”
Aldo tersipu malu, segera berpamitan pulang karena sudah larut sore. Di dalam perjalanan Aldo melihat kakaknya sedang berkelahi di pertigaan gang kecil. Aldo segera melerainya. Perkelahian usai setelah Aldo terkena pukul lawan Aldi. Aldo merasa kesakitan dan mengajak Aldi untuk pulang.
“Aldo Aldo eeh ... ehg ...”
“Zahra ini mama nak!”
“Mama, Aldo mana.”
“Dia sudah pulang!”
“Ma, dia baik banget kan.”
“Dia sudah mau bantu Zahra.”
“Ya ... mama tau dia memang baik.”
Setelah makan malam bersama keluarga Aldo istirahat di kamarnya. Tak disangka Aldi membawa panci berisi air es untuk mengkompres memar di pipi Aldo.
“Aduh ... sakit kak ... pela dong!”
“Ni juga sudah pelan, makanya nak kecil jangan ikut – ikutan.”
“Lagian kakak ngapain kakak bertengkar di jalan lagi.”
Aldi berhenti sebab dia berkelahi tadi, karena temannya adalah bandar narkoba. Jadi Aldi berusaha untuk menasehatinya, tetapi Windi membalas dengan pukulan. Di balas pukulan itu pada Windi oleh Aldi. Aldo yang takut masalah ini akan menyebarluas dan memperjelek nama sekolahnya. Aldi juga berusaha untuk menyadarkan Windi tetapi dari dulu tak dianggap. Aldo yang ingin menyadarkan Windi karena dia sebagai anggota OSIS. Ingin menyelesaikan masalah ini ke tangan OSIS. Aldi menyetujuinya dan bersedia menjadi saksi. Rapat itu dihadiri oleh anggota OSIS, pembina OSIS, guru BK dan para saksi.
Windi yang tak tau apa – apa dipanggil ke ruang OSIS dan duduk di tengah layaknya terdakwa. Pertanyaan – pertanyaan tertuju pada Windi. Windi tak bisa mengelak karena bukti dan saksi sudah ada. Dengan jujur Windi mengakui bahwa dia mengedarkan Narkoba tetapi tidak pernah dia mencoba bahkan mengkonsumsinya. Windi diancam kalau dia masih menjadi pengedar maka dia dikeluarkan dari sekolah ini secara tidak hormat. Rapat selesai, semua anggota yan tergabung dalam rapat kali ini termasuk Windi berterima kasih kepada 2 saudara kembar itu.
“Thank’s frend tas nasehatnya, maaf kemarin aku emosi mukul kamu.”
“Ah gak pa-pa brow ... khilad kan biasa.”
“Hebat kalian berdua ini!!”
Aldo dan Aldi merasa bahagia karena dapat menyelamatkan Windi dan menjaga nama baik sekolahnya.
Zahra hari ini tak mengikuti latihan paduan suara karena sakit. Tapi latihan tetap berjalan untuk mempersiapkan sematang mungkin. Aldo yang berencana pulang sekolah untuk menjenguk Zahra.
“Assalamu’alaikum.”
“Waalaikum salam ... oh nak Aldo, mari silahkan masuk, langsung ke kamar saja. Zahra di kamar!”
“Iya bu permisi, terima kasih.”
Aldo segera menuju kamar Zahra untuk melihat kondisinya. Zahra yang terbangun riang melihat kedatangan Aldo. Zahra langsung bersemangat untuk sembuh dan lahap sekali makan. Meskipun ayahnya sedang bertengkar dengan ibunya dan tak dapatkan kasih sayang dari ayahnya, Zahra tak menyerah untuk mempertahankan hidupnya dengan obat. Aldo tak mengetahui penyakit yang diderita Zahra, yang dia tau bahwa Zahra kondisi fisiknya lemah. Sebelum pulang ibu Zahra mengajak Aldo untuk membicarakan sesungguhnya tentang Zahra.
Aldo tersentak kaget tak bergumim, mendengar bahwa Zahra mengidap penyakit Hemofilia. Ibunya berpesan waktu disekolah untuk menjaga Zahra. Aldo dengan senang hati membantu Zahra dengan ketulusannya. Ibu Zahra menceritakan tentang semua kegemaran maupun hal yang paling dibenci oleh Zahra.
“Ma ... Aldo ke mana?”
“Kok tanya mama, tadi kan sekolah sama kamu!”
“Tadi dia rapat OSIS lo ma, tapi ga’ biasanya sampek larut seperti ini.”
“Coba kamu telfon sana!”
Aldi segera menghubungi Aldo dan menyuruhnya untuk segera pulang karena ayahnya akan segera pulang Aldo cepat berpamitan dan pulang ke rumah. Aldi yang heran melihat tingkah adiknya tiap hari berubah 180o. Dari pendiam, jadi suka senyum – senyum sendiri, penampilan modern banget dan sering pulang telat. Aldi merasakan kalau adiknya sedang jatuh cinta dengan seseorang. Aldo tak mau mengakuinya, tapi perasaan si kembar tak bisa dibohongi.
“Aduh adekku sedang jatuh cinta, cie!”
“Apa sih kak.”
“Halah jangan bohong! Pipimu merah.”
“Kak ... kak ndak tau perasaan apa ini.”
“Siapa dia? Ngaku aja!”
“Halah kak, ada dech! Dah tidur ... tidur udah malem, ngantuk.”
Keluarga Zahra yang terancam akan pecah, dengan sabar Zahra dan ibunya mempertahankan kerukunan keluarganya. Ayahnya yang terpengaruh dunia luar, yang mempengaruhi pikiran untuk berbuat maksiat demi kepuasan sesaat.
“Hey Zahra ... ayo bangun jangan tidur. Orang kok penyakitan, anak apa ini.”
“Pa ... papa bilang apa Zahra anak kita pa!”
“Halah kau juga tak becus mendidik annak, ibu macam apa kau ini!”
“Astagfirllahhaladzim papa sudah keterlaluan!”
“Ah ... diam kau anak sama Ibu sama saja.”
Papa Zahra memukul Ibunya hingga jatuh di depan pangkuan Zahra, Zahra dan mamanya yang hanya bisa pasrah dan terus bertahan demi keluarganya. Papa Zahra yang bekerja sebagai TNI angkatan darat di salah satu kodim tempat mereka tinggal. Setiap hari tak jarang ayahnya pulang. Kadang pulang pagi dan bau tubuh, nafas, mulut tercium bau alkohol.
Pagi sekali Aldi bangun, mandi dan mencuci motornya. Aldo yang melihatnya bertanya – tanya ada apa dengan kakaknya. Dia menyadari kalau kakaknya akan pergi keluar kota bersama kekasihnya, karena kemarin sore sudah mempersiapkan segalanya. Mulai dari tas ransel, bontrot, uang dan persiapan fisik. Aldo yang mengisi akhir pekannya dengan mengantarkan ibunya ke pasar. Aldo menunggu diluar tempat parkir sedangkan ibunya diluar pasar. Saat asyik melamun, Aldo dipeluk dari belakang oleh seorang pria yang kelihatannya mabuk berat. Aldo bingung dan merasa takut dengan pria yang tak dikenalnya itu. Aldo yang berusaha menyadarkan laki – laki itu dengan sabar.
“Pak ... maaf bapak siapa?”
“Nak tolong Bapak! Aigk ... aighk.”
“Saya bisa bantu apa pak?”
“Tolong antarkan Bapak ke kamar mandi, bapak tak kuat berjalan.”
“Baik pak! Mari.”
Pria itu pergi ke kamar mandi dekat tempat parkir, dia langsung membersihkan badannya. Selesai mandi pria itu keluar dengan raut wajah yang segar. Pria itu minta tolong pada Aldo untuk mengajari wudhu dan sholat. Dengan senang hati dan tanpa pamrih. Dengan sabar Aldo mengajari pria itu. Dan pria itu mulai bisa sedikit demi sedikit jika terus dijalankan.
Setelah mengajari sholat dan wudhu Aldo segera kembali ke tempat parkir karena mungkin ibunya sudah menunggu. Sebelum beranjak pergi pria itu memperkenalkan dirinya pada Aldo.
“Tungu nak, namamu siapa?”
“Aldo pak, bapak sendiri?”
“Panggil saja saya pak Darso, saya melihatmu jadi ingat anak saya, ah sudahlah!”
“Mari pak, permisi!”
“Makasih banyak nak.”
Aldo yang segera berlari menghampiri ibunya. Di sambut omelan oleh ibunya. Karena keteledorannya ibu Aldo dibuatnya menunggu. Pak Darso adalah ayah dari Zahra yang berubah berkat doa istri dan anaknya. Aldo yang dikenal pak Darso, sangat ikhlas membantunya untuk kembali ke jalannya. Pulang dari pasar Aldo bertanya – tanya pada dirinya. Wajah Pak Darso mirip sekali dengan foto keluarga Zahra. “Apa mungkin itu ayah Zahra?”
Keluarga Zahra kembali damai dan harmonis. Zahra yang mempunyai semangat hidup dengan kembalinya kasih sayang seorang ayah padanya. Zahra setiap hari sekolh diantar oleh ayahnya dan pulang dijemput oleh ibunya.
“Papa ... ayo berangkat!”
“Aduh anak papa cantik banget.”
“Ayo ... berangkat.”
“Lets go pa!”
“Da mama ... papa berangkat.”
“Hati – hati pa.”
“Da mama.”
“Da Zahra.”
Satu minggu lagi acara purnawiyata kelas 3 akan dimulai. Jadi semua peserta harus menyiapkan dirinya dengan performance yang mantap. Zahra yang berlatih giat dengan dukungan dari keluarga dan orang yang spesial baginya yaitu Aldo.
Di masjid “At Taubat” Aldo menyempatkan diri untuk menunaikan ibadah sholat Azhar, karena kalau dijalankan di rumah waktu yang kurang bersahabat. Di samping ldo sholat pak Darso sedang wiridan dengan tasbih yang berbandul mungil. Sesekali pak Darso melirik laki – laki yang sholat di sampingnya. Selesai sholat Aldo tak lupa berdoa, sedangkan pak Darso keluar memakai sepatunya. Disusul Aldo dengan memakai sepatunya yang kebetulan berada di samping pak Darso. Mereka saling berjabat tangan.
“Pak Darso.”
“Tunggu ... tunggu bukannya ... oh iya nak Aldo? Apa kabar?”
“Alhamdulillah baik pak, bapak sendiri?”
“Baik nak, sehat.”
“Baru pulang sekolah ya?”
“Iya pak, trus mampir sholat dulu.”
“Sama nak, kalau pulang gak nutut waktunya.”
“Nak Aldo, saya punya hadiah kecil buat nak Aldo.”
“Apa itu pak?”
“Iya buat kamu.”
“Bagus banget pak.”
“Bandulnya mungil.”
“Iya itu untuk nak Aldo buat kenang – kenangan.”
“Terima kasih pak.”
Bandul yang diberikan Pak Darso padanya adalah kado yang istimewa untuk Aldo, tapi Aldo tak mengerti apa maksud dari perkataan untuk kenang – kenangan.”
“Apakah pak Darso akan pergi?”
Zahra dan mamanya sudah siap menunggu kedatangan papanya di meja makan. Tak lama kemudian papanya datang, Zahra segera menyambut dengan pelukan erat. Mereka duduk di meja makan dan menikmati masakan ibunya bersama – sama dengan lahapnya. Dan ini jarang sekali terjadi masakan habis dalam satu kali santap. Setelah makan selesai pak Darso berkeinginan untuk mengajak Zahra dan ibunya pergi jalan – jalan. Mobil sudah siap untuk mengantarkan penumpangnya ke tempat tujuan. Zhra dan mamanya merias diri secantik mungkin di hadapan ayahnya. Papa Zahra segera naik mobil mengendarainya, sedangkan Zahra dan mamanya masih sibuk dengan dandanannya.
“Kk, kamu tau Zahra g? Anak baru itu loch!”
“Ya ... ku tau, hayo da pa?”
“G kok!”
“Halah jangan bohong, pipimu merah tuch!”
“Yo ... emang ku cinta padanya.”
“Kamu tembak saja!”
“Udah dari dulu kok kepingin nembak tapi cari suasana yang enak susah.”
“Kamu kerumahnya saja!”
Setelah mereka berjalan – jalan, berbelanja di lanjutkan dengan makan malam di restaurant makanan padang. Di sana mereka bercanda bersama – sama”
“Ma ... Zahra, papa mau ngomong penting!”
“Da pa ..? pa kayaknya penting banget!”
Pak Darso yang belum siap menceritakan semuanya. Zahra dan mamanya penasaran dengan tingkah laku papanya.
“Ma ... Zahra, papa dipindah lagi dinas ke Papua!”
“Apa pa, kok pindah lagi.”
“Karena pangkat papa dan tugas papa terjatuhkan disana!”
“Kalau begitu kapan kita bisa kembali kesana lagi?”
“Besok, masalah sekolah kamu Zahra, papa sudah urus semuanya!”
“Tapi kok papa baru kasih tau sekarang dan kita sama sekali belum ada persiapan!”
“Maaf, karena papa dapat surat keterangannya baru tadi pagi.”
Pagi – pagi sekali keluarga Pak Darso sudah bersiap – siap untuk kembali ke Papua, untuk menjalakan tugas dari Dinas. Zahra yang terpikir dengan Aldo, tak rela meninggalkan kenangannya bersamanya. Tetapi karena keluarganya dan Zahra masih tanggung jawab dari Ayah dan ibu nya.
Mobil siap untuk dijalankan, semuanya masuk kedalam mobil. Sedangkan Zahra menitip amplop berwarna pink agar dikasihkan untuk anak muda yang mencari Zahra. Seakan berat kaki melangkah meninggalkan rumah, sekolah dan sebuah surat untuk Aldo yang dititipkan pada pembantu di rumah.
Pukul 07.00 pesawat dengan tujuan Papua segera meninggalkan landas. Zahra tetap memikirkan Aldo yang merasa tak rela meninggalkan Aldo.
“Hanya ucapan yang kutulis dalam amplop itu.”
Aldo bangun dengan penuh semangat karena berniat untuk menyatakan perasaannya pada Zahra. Motor dicuci bersih dan dilap sekinclong mungkin. Pakaian, mental, dipersiapkan sedini mungkin. Dengan dukungan dari Aldi, menjadikan dia lebih semangat. Setelah sarapan, Aldo siap berangkat ke rumah Zahra.
“Tok ... tok ... Assalamu’alaikum?”
“Wa’alaikum ... cari siapa mas?”
“Zahra ada?”
“Maaf mas, sejak tadi pagi keluarga Pak Darso termasuk Zahra sudah meninggalkan tempat ini!”
“Apa ...!”
“Eh ... mas tadi mbak Zahra nitip surat ini untuk mas!”
“Makasih, permisi!”

To : Aldo
Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Aldo ku minta maaf banget atas semua kesalahanku selama ini. Sudah banyak ngrepotin kamu. Ini mungkin surat terakhir dariku, tapi bukan berarti persahabatan kita terputus sampai disini.
Kau teman yang baik, selalu mengerti aku, tau sifatku, memahamiku dan selalu memberi dukungan padaku. Sahabatku jangan pernah lupakan aku. Ku kenang dirimu selalu ada di hatiku.
Ku tak inginkan perpisahan ini terjadi, tetapi karena ayahku mendapat tugas keluar kota. Jadi aku harus ikut dengannya. Maafkan aku Aldo. Aku tak bermaksud meninggalkanmu. Jangan lupain aku sahabat sejatiku . . . .
Wassalamu’alaikum Wr. Wb.
For best friend,
Zahra

Aldo yang menangis, karena cintanya tak sempat tersampaikan pada Zahra. Tetapi Aldo tak menyerah dengan perpisahan ini. Yang tak tersadar oleh Aldo adalah, bahwa Zahra adalah putri dari pak Darso. Bandul yang dikenangkan sama persis dengan Bandul mungil yang diberikan pak Darso padanya. Kemarin lalu.

By: Ria Andriani (Leondri17@gmail.com)
http://www.riand-mahakarya.blogspot.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

matursuwun...
Sugeng Comment