
Berbagai kasih untuk orang yang kita sayangi
Saat kasih mengalahkan benci
Seiringnya waktu berputar seperti roda
Kadang ku di atas kadang di bawah
Hanya temanlah yang sanggup mengerti
Sahabat yang sejati
Slalu ada untuk curahan hati
Putus hubungan karena pacaran jarak jauh. Kurangnya komitmen yang disetujui. Membuat Niko entah bagaimana lagi dia harus mempertahankan kekuatan, keyakinan, kekhawatiran cintanya pada Sindy.
Keputusan yang singkat di setujui mereka berdua tanpa membenci satu sama lainnya. Niko yang dituntut pekerjaan ayahnya dan Sindy tak dapat mempercayai Niko. Seiring berjalannya waktu Sindy menganggap Niko sebagai masa lalu. Tetapi berat sekali bagi Sindy untuk melupakan Niko. Setiap hari, kecuali hari Minggu Sindy bersekolah di SMA I Karangan, Surabaya. Siswa yang menduduki bangku SMA kelas 1 bertempat tinggal di Desa Batu Agung dekat pasar. Sindy yang tak pantang menyerah menjalani kehidupannya berhias, iman, taqwa, belajar, usaha, do’a motivasi dan dorongan.
Sebelum mengenal Niko, Sindy sudah bersahabat dengan tetangganya, di mana dia selalu ada saat duka maupun senang. Setiap hari Fikih berangkat sekolah bersama dengan Sindy.
“Sindy ... Sindy ... ayo berangkat !”
“Ya ... bentar tunggu dulu.”
“BRUK KLONTANG”
“Sindy da pa hati – hati dong Nak cepet Fikih dah nunggu !!”
“Gak da papa Ma ! Bentar suruh nunggu !”
10 menit menunggu Sindy berdandan. Mereka segera berangkat karena sudah terlambat. Mereka berlarian untuk memburu waktu masuk sekolah. Mereka ngos – ngosan tiba di depan gerbang sekolah yang sudah ditutup. Dengan inginnya masuk sekolah, mereka merayu Pak Satpam.
“Pak ... tolong bukain gerbangnya atu Pak !”
“Gak bisa dek sudah masuk 20 menit yang lalu, nanti saya dimarahin Kepala Sekolah.”
“Tolonglah Pak 1 x ini saja.”
“Pa kalian sudah sering terlambat, ni pelajaran buat kalian berdua.”
“Pak ... Bapak belum punya istri kan, mau gak saya comblangin ma penjual jamu itu.”
“Okey mau ... mau ... kapan saya tunggu. Kalian boleh masuk ! Ayo cepat nanti ketahuan.”
“Makasih Pak !”
Fikih dan Sindy berlari menuju ke kelas. Di kelas ternyata jam kosong. Kondisi itu sangat menguntungkan Fikih dan Sindy untuk mengambil nafas. Fikih mengajak Sindy pergi ke kantin, membeli air minum. Dengan terbiasa dan saling akrabnya Sindy setiap ada Fikih. Dia tak menyia – nyiakan waktu untuk curhat kepada Fikih. Sahabat yang selalu mengerti, memahami dan memberi solusi untuk memberi semangat Sindy.
“TET ... TET ... TET ...”
Bunyi bel tanda pulang sekolah, Sindy tak pulang dengan Fikih karena dia ada belajar kelompok di rumah Vindi. Setelah belajar kelompok di rumah Vindi, Sindy pulang melewati toko buku, dia mampur untuk membeli buku tulis untuk sekolah. Saat keenakan memilih – milih buku, tak didasari Sindy berebut satu buah buku yang hanya tinggal satu.
“Eh ... Nika ... dah kamu ja ku dah punya.”
“Gak kamu ja, kamu kan lebih ngebutuhinnya.”
“Ya udah, beneran gak nyesel.”
“Gak dah kamu beli ja.”
“Makasih Nik.”
Tak disangka Niko berebutan buku, saat itu mereka dipertemukan. Dengan begitu kangennya, mereka menyempatkan untuk silaturakhim di cafe Rere. Mereka saling menanyakan kabar, bercanda dan berbagi pengalaman sekolah. Niko yang masih menyimpan cintanya pada Sindy. Sulit bagi Niko untuk menanyakan teman hidupnya saat ini. Alasan Niko kembali ke Surabaya, karena mengambil berkas – berkas penting milik ayahnya yang ketinggalan.
“Sore bu... Sindy ada ?”
“Oh ... Fikih ... ibu juga g tahu jam segini kok belum pulang, tadi katanya kelompok dirumah Vindi”
“Ya udah bu, coba ku jemput. Makasih”
“Ya... nak Fikih, hati-hati”
Dengan cepat Fikih mengayuh sepedanya melaju ke rumah Vindi. Tiba di rumah Vindi, Sindy sudah pulang ½ jam yang lalu. Fikih akhirnya menghubungi Sindy, tetapi hp-nya g’ aktif. Dengan penuh harap Fikih menelusuri jalan, tiba-tiba dia melihat Sindy duduk sendirian diatas kursi sambil menundukkan kepala.
“Hey ... Sindy kamu ngapain disitu ? Ayo pulang udah sore, ibumu nyari kamu !”
“Egh ... Uh ... Egh ... Em ... Uh ... Hu ... “
“Kamu kenapa nangis ?”
“Fikih ku ketemu ma Niko”
Fikih mencoba menenangkan Sindy dan memberinya kesempatan untuk bercerita. Fikih memboncengnya pulang ke rumah dengan naik sepeda. Malampu tiba, iseng-iseng Sindy mengetuk dan melempari bola plastik di jendela kamar Fikih. Fikih segera membukanya, Sindy ingin curhat dengan sahabat baiknya. Sindy mengajak Fikih untuk turun, keluar rumah untuk melepaskan beban pikirannya.
“Fikih ... Fikih ... Hu ... a ... a ... hu “
“Da apa udah jangan cengeng ! da masalah apa ?”
“Tadi ku pulang dari rumah Vindi, ke toko buku trus rebutan buku ma orang “
“Trus ngapain kamu nangis ?”
“Orang itu Niko ... Kih. Ku waktu itu nggak tau mau ngomong apa “
“Trus ... trus”
“Ya kami Cuma tanya keadaan, g’ berani ngomong masalah pacar. Pokoknya malu dan canggung”
Setelah mendengar cerita hati Sindy, perlahan Fikih memberi solusi dan meyakinkan cinta Sindy pada Niko. Tetapi Sindy lebih memilih sahabat. Dia beranggapan cinta adalah persahabatan. Fikih turut memberi arti cinta dalam sebuah komitmen persahabatan. Malampun larut, bulan seakan menerangi gelapnya malam. Saking pusing dan capeknya. Sindy tertidur di pudak Fikih. Fikih merasa tenang, jika dekat dengan Sindy entah perasaan apa. Karena melihat Sindy terdtidu lelap dan kasihan karena dinginnya malam, Fikih menggendongnya, mengantar ke kamar. Pagi harinya Sindy bingung dan bertanya-tanya siapa yang mengantarnya ke kamar. Setelah mandi, Sindy bersiap untuk jogging karena hari libur.
“Permisi ibu ... pagi ... Fikih mana bu ?”
“Pagi ... Sindy ... tuch ada diatas masih tidur, Gih bangunin !”
“Oke bu !”
Penuh semangat jahilnya, Sindy berjalan perlahan menuju kamar Fikih. Sindy melihat sebuah kemucing diatas meja, dia mengambilnya dan mengenduskan ke arah hidung Fikih. Sindy cekikan sendiri, sedangkan Fikih bersin-bersin sangat terganggu. Fikih terbangun, menusap-usap hidungnya. Fikih mengejar Sindy dan menangkapnya dengan tak sengaja Fikih terjatuh diatas Sindy. Melihat sorotan mata Sindy membuat mereka berdua hanyut dalam pandangan cinta, awal cinta akan tumbuh. Terputus, oleh jam alarm mereka salah tingkah.
“Eh ... maaf ...”
“Fikih cepat mandi sana kita jogging”
“Ya tak mandi”
Sambil menunggu Fikih mandi, Sindy membersihkan, merapikan dan membereskan tempat tidur Fikih.
Setelah jogging mereka mencari rumput untuk makan kelincinya di halaman belakang rumah. Kelinci pemberian Niko yang masih dirawat oleh Sindy dengan bantuan Fikih. Fikih sangat senang sekali melihat Sindy senang. Dia ikut senang, melihat Sindy Sindy sedih dia mencoba menghiburnya.
“Fikih”
“Sindy”
“Pulang sarapan dulu !”
“Ma ... Fikih baik banget dech ma Sindy”
“Alhamdulillah kalau dia bisa menjaga kamu”
“Masa’ dia mau membantu merawat kelinci pemberian Niko, menghibur, menasehati”
“Hayo ... jangan-jangan Sindy suka ya ma Fikih”
“Ah ... mama bisa aja ! lagian enak sahabatan”
“Ya terserah kamu ... pokoknya kamu bisa menjaga diri, belajar, prestasi, cita-cita, sahabat untuk semangat hidup”
Pukul 19.00 WIB Niko bertamu ke rumah Sindy untuk berpamitan kembali ke Jakarta. Sindy tak tahan menahan rembesan air mata yang keluar menangisi Niko. Niko menenangkan Sindy, meyakinkan dan memeluknya.
“Percayalah ... takdir yang bisa mempersatukan kita. Dimana ada pertemuan pasti ada perpisahan”
“Tapi Niko ... ehm ... uh ... gh ... ugh ...”
“Cup ... cup ... udah dong masa’ dah gedhe cengeng”
“Ya ... kamu hati-hati disana jaga diri kamu baik-baik”
“Kamu juga”
“Ingat g’ kelinci pemberianmu masih kurawat”
“Tolong jaga baik-baik!”
Keesokan harinya Sindy bercerita pada Fikih. Fikih memberi semangat untuk maju dan berjuang. Sindy menyadari dia telah menemukan sahabat sejati penuh cinta tulus mengasihinya. Ada disampingnya selalu ada susah maupun bahagia. Ikhlas membantu, nasehat yang mendorong semangatnya. Dia adalah Fikih tetangga sekaligus teman sekelasnya.
1 tahun terlewati
Fikih dan Sindy menjadi pasangan sahabat yang kompak. Cinta, kasih, sayang, perhatian, pengertian, komitmen, semangat, ikhlas ada dalam kamus persahabatan Fikih dan Sindy.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
matursuwun...
Sugeng Comment