Next

Kamis, 14 Juli 2011

TAK DIBALAS KEBENCIAN

TAK DIBALAS KEBENCIAN

Berawal dari sebuah pengkhianatan karena cinta yang bertepuk sebelah tangan. Kisah ini, adalah kisah seorang temanku yang bernasib malang. Pengkhianatan berujung kebencian dan putusnya silaturahmi.



Senja disore hari................
Sepulang kerja Agung bergegas mandi kemudian menunaikan ibadah sholat Ashar. Agung mempunyai pacar, namanya Tasya. Dia adalah tetangganya sendiri. Hubungan mereka berjalan 5 bulan. Tasya bekerja di counter milik ayahnya, sedangkan agung bekerja sebagai supervisor di dealer mobil. Selama ini hubungan mereka mlai sedikit renggang karena Tasya sedikit menghindar dari Agung.
Malam ini Agung berniata main kerumah Tasya, seperti biasa dia mengendarai sepeda motornya Mega Pro 2009. Tasya yang saat itu berada dikamar, sedang berbincang-bincang lewat telfon dari seorang laki-laki. Mendengar suara motor Agung, Tasya segera berpamitan untuk menutup telfonnya.
“Assalamualaikum”.
Waalaikumsalam, masuk gung”. Tasya menyilahkan Agung untuk duduk sembari memasukkan Hpnya ke saku samping celananya. Orang tua Tasya sudah mengenal Agung dan keluarganya. Mereka setuju dengan hubungan Tasya dan Agung namun nereka tidak menyukai kondisi keluarga Agung karena broken home. Tasya bersikap dingin ketika Agung main kerumahnya. Agungpun mulai bertanya, kenapa akhir-akhir ini Tasya berubah. Tasya tidak menjawabnya dengan jujur, seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Sebenarnya Tasya sedang dekat dengan laki-laki yang menelponnya tadi. Micko, dia lebih dari Agung dilihat dari segi materi. Tasya mengenal Micko 2 minggu yang lalu, saat dia membeli pulsa di counter yang ditungguinnya. Sejak itu, mereka saling berkenalan dan tukar-tukaran no. Hp. Agung jarang menengok Tasya saat bekerja dicounter, karena Agung sendiri juga bekerja. Terkadang ia sempatkan untuk menengok, memastikan Tasya kalau dia baik-baik saja. Agung lebih sering datang kerumah Tasya daripada mengajaknya untuk keluar rumah. Jika hari libur kerja, Agung menyempatkan waktu untuk pergi keluar bersama Tasya.
Tanpa sepengetahuan Agung, Tasya menjalin hubungan dengan Micko. Micko tak memeperdulikan hubungan Tasya dengan Agung, terenggang karenanya. Tasya sudah termakan rayuan Micko, niat Micko dengan Tasya hanya untuk membuatnya senang.
Di warung pojok milik Pak Nambar.......
Dipenuhi pelanggan jam istirahat makan siang, menu makanan yang di idolakan para pembeli. Tersedia gado-gado, rujak sayur, rujak cingur, nasi gudeg dan masih banyak lagi. Siang itu Agung menemui Tasya di warung Pak Nambar.
“Tas, ada perlu apa kamu mau ketemu aku?”. Tanya Agung penasaran sambil duduk disamping Tasya yang sedang menyantap sepiring gado-gado. Spontan Tasya menengok kesamping, melihat Agung yang datang dengan nafas tersengal-sengal.
“Aduh .....duduk dulu gung, ni minum!”
Menyodorkan segelas es teh, Agung segera menghabiskan segelas es, dia terburu-buru untuk menemui Tasya, karena Tasya menelfon Agung untuk memintanya datang dengan cepat.
“Ada apa Tas?”
“Maaf gung, aku....”. Tasya menundukkan kepalanya. Dengan menggenggam tangan Agung erat, wajah Tasya yang tertutupi oleh rambutnya. Agung merasa bingung dan bertanya-tanya dalam hatinya.
“Kenapa Tas......”, menggenggam tangan Tasya erat.
“Aku mau kita putus”.
“Kamu mau kita putus, tapi aku nggak mau putus dengan kamu”. Agung melepaskan genggamannya, perlahan Agung mengangkat dagu Tasya agar dia melihatnya.
“Aku sudah bosan dengan hubungan ini?”
“Alasan kamu apa?, apa salahku?”. Menatap matanya tajam seakan tak menyetujui kemuan Tasya.
“Aku butuh perhatian lebih dari kamu, tapi kamu nggak pernah kasih itu buatku”.
“Memang, aku kurang memperhatikan kamu tas, karena aku harus membagi waktu antara kamu, keluarga, pekerjaan dan diriku sendiri”. Agung menjelaskan dengan mata sayup menatap Tasya yang bersikap tak perduli. Tasya beranjak dan kembali ke counter dengan meninggalkan Agung yang terduduk lemas menatap Tasya pergi dari hadapannya. Kini putuslah hubungan mereka berdua. Malam harinya Tasya menerima permintaan Micko untuk menjadi pacarnya. Dia meninggalkan Agung hanya demi micko.
Sebulan berlalu...............
Micko meninggalkan Tasya setelah merenggut keperawananya. Tasya menyesali semuanya, tetapi entah kenapa dia justru membenci Agung akan apa yang terjasi dengannya. Orang tua Tasya mengetahui dia hamil dengan Agung. Sebenarnya Tasya hamil karena Micko. Orang tua Tasya tidak mengetahui kalau mereka sudah tidak berpacaran lagi. Entah kenapa malam itu, keinginan Agung untuk berkunjung kerumah Tasya semakin menggebu. Berniat untuk silaturahmi Agung berjalan menuju rumah Tasya. Terdengar dari luar, ayah Tasya sedang marah-marah terbesit rasa ragu untuk bertamu.
“Assalamualaikum....tok-tok-tok”.
“Waalaikumsalam, eh nak Agung, mari masuk! Silahkan duduk”. Sambut Ibu Tasya ramah. Ayah Tasya segera keluar menemui Agung, saat itu wajahnya menyimpan amarah yang membludak.
“Mau apa kamu datang kemari?,
tega kau buat anakku seperti ini.
Dasar laki-laki hidung belang”. Menunjukkan jariya didepan dahi Agung. Agung terdiam tak mengetahui sebab kenapa ayah Tasya marah padanya.
“Maaf, Pak......maksud bapak bagaimana?”
“Halah nggak usah banyak omong kamu”.
“Sabar Pak, tenagn jangan keras-keras malu didengar tetangga”. Ibu Tasya mencoba menenangkan Pak Suto.
“Pak Suto, kalau maslah ini menyangkut putri bapak, saya sudah putus dengan Tasya sebulan yang lalu, jadi saya tidak tahu menau tentang masalah ini. Kenapa Bapak menyalahkan saya?”
Pak Suto beranjak masuk kedalam menyeret Tasya akeluar dari kamar, Tasya terlihat sedih dengan wajah yang berlinangan air mata. Tasyapun mengakui kalau Micko yang membuatnya hamil bukan Agung. Agung terpukul mendengar pengakuan Tasya, kini dia tak bisa berharap untuk menikahimya. Tasya menyesal telah memutuskan Agung. Kini dia harus menanggung akibat yang menjatuhkan harga dirinya sebagai seorang perempuan hanya karena kenikmatan sesaat berbuah penyesalan.



                                                                                                                        Rian
E-Mail : Leondri17@gmail.com
http://riandri-mahakarya.blogspot.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

matursuwun...
Sugeng Comment